Bandung,(PR).

Di tengah tekanan fluktuasi kurs dan perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, kinerja ekspor industri kertas Indonesia justru membukukan catatan positif. Diperkirakan hingga penghujung tahun 2018, total ekspor kertas Indonesia akan mencapai 7 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan raihan sepanjang 2017 yang mencapai 5,8 miliar dolar AS.

Ketua Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia Aryan Wargadalam mengatakan, secara umum industri kertas tanah air tetap tumbuh dan perkembangannya pun membaik. Hal itu salah-satunya ditandai dengan terus meningkatnya kinerja ekspor industri kertas.

Kondisi tersebut, dikatakan Aryan, salah satunya dipengaruhi oleh kebijakan yang diambil pemerintah Tiongkok di bidang industri kertas. Pemerintah negara tersebut mengeluarkan kebijakan untuk membatasi impor kertas daur ulang yang menyebabkan sejumlah pabrik kecil kertas di negara tersebut berhenti beroperasi.

"Kebijakan ini membuat ekspor kertas Indonesia ke Tiongkok terus naik. Mulai 2017 mencapai lebih dari 400.000 ton, meski bea masuk yang dikenakan cukup tinggi," katanya ditemui di sela-sela kegiatan 3rd International Symposium on Resource Efficiency in Pulp and Paper Technology (3rd REPTech), di Bandung, Selasa (6/11/2018).

Kegiatan yang diselenggarakan Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK), Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI), Kementerian Perindustrian tersebut dihadiri para pelaku industri kertas dan peneliti dari sejumlah negara.

Berdasarkan perkembangan positif tersebut, Aryan optimistis kinerja industri kertas Indonesia akan semakin meningkat, meski ada sejumlah kendala yang mungkin dihadapi.

Misalnya, saat ini situasi global tengah tertekan akibat perang dagang yang dilancarkan AS dengan Tiongkok, serta sejumlah tuduhan dumping yang dikenakan ke produk kertas Indonesia oleh sjumlah negara maju.


Industri hijau

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian Ngakan Timur Antara mengatakan, pemerintah terus mengarahkan pengembangan industri hijau, yakni industri yang dalam proses produksinya mengutamakan efisiensi dan efektifits penggunaan sumber daya secara berkelanjutan. Pembangunan industri juga diselaraskan dengan kelestarianfungsi lingkungan hidup serta dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Industri kertas, diantaranya didorong untuk mengurangi pemakaian bahan berbahaya dalam proses produksi, mengurangi pemakaian energi, dan mengurangi pelepasan emisi gas CO2 ke udara, mengurangi pemakaian air.

"Dari 34 industri yang kami pantau, efisiensi yang dilakukan setara dengan menurunkan pemakaian energi senilai Rp 2,7 triliun, dan mengurangi pemakaian air setara 250 miliar. Dengan pengembangan industri hijau kita meningkatkan daya saing karena cost turun dan citra terhadap kelestarian lingkungan juga samakin baik," katanya. (Yulistyne