Para peneliti dari Australia beberapa tahun yang lalu melaporkan bahwa biorefinery tidaklah ekonomis melainkan dibangun dalam skala yang besar dengan menerima subsidi pemerintah atau dalam keadaan yang khusus. Membangun biorefinery berskala besar menyajikan resiko teknis dan ekonomi yang sulit diterima oleh banyak perusahaan.

Resiko memasuki pasar bahan bakar bio/ produk bio bisa dikurangi dengan memulai pabrik berskala kecil meskipun, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, mungkin kurang ekonomis. Menurut para peneliti tersebut solusi dari permasalahan ini adalah dengan membangun pabrik dimana sebagian besar pendapatannya diperoleh dari bahan kimia bernilai tinggi meskipun dengan volume yang kecil dan sisa bahan baku dikonversi menjadi bahan bakar atau bahan kimia bernilai lebih rendah.

Beberapa tahun kemudian, pada tahun 2007, disebutkan bahwa industri biodiesel Amerika Serikat (menggunakan FAME) menghasilkan lebih dari 2 miliar galon diesel setiap tahun. Kontribusi "biofuel generasi pertama" ini didokumentasikan dengan baik.

Perkembangan yang signifikan dalam pembuatan biofuel dan bahan kimia dalam tingkat lanjut sedang ditempuh. Tingkat lanjut dalam hal ini dapat diartikan bioproduk seperti etanol dan diesel dibuat dari material terbarukan seperti selulosa, hemiselulosa dan lignin, atau yang sering kita sebut sebagai biomassa. Hal ini juga dapat diartikan bahan kimia seperti asam succinic dan butanol dibuat dari biomassa dengan keberadaan teknologi tingkat lanjut.

Data yang ada menunjukkan bahwa dalam beberapa dekade mendatang keuntungan yang diperoleh dari penjualan bahan bakar dan bahan kimia akan melebihi nilai penjualan pulp dan kertas. Kuncinya adalah penelitian dan pengembangan produk biomassa bernilai lebih tinggi mengendalikan keberlanjutan biomassa.

Sumber: Publikasi luarnegeri