Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Perindustrian memacu industri pulp dan
kertas untuk terus menggunakan teknologi terkini yang ramah lingkungan
agar dapat menghasilkan inovasi berkelanjutan.

Demikian disampaikan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri
(BPPI) Kemenperin Ngakan Timur Antara.

"Sampai saat ini, sudah ada 84 perusahaan pulp dan kertas di Indonesia.
Indonesia berada di peringkat ke-9 untuk produsen pulp terbesar di dunia
serta posisi ke-6 untuk produsen kertas terbesar di dunia," kata Ngakan
melalui keterangannya di Jakarta, Senin.

Langkah yang sejalan dengan implementasi Making Indonesia 4.0 ini dinilai
dapat meningkatkan daya saing produk nasional sehingga lebih kompetitif di
pasar global.

Menurut dia, berdasarkan kebijakan industri nasional, industri pulp dan
kertas merupakan salah satu sektor yang mendapat prioritas dalam
pengembangannya.

"Hal ini karena Indonesia punya potensi terutama terkait bahan baku,
selain itu produktivitas tanaman kita jauh lebih tinggi dibandingkan
negara-negara pesaing yang beriklim subtropis," tuturnya.

Selain itu, industri pulp dan kertas memberikan kontribusi yang signifikan
bagi perekonomian nasional.

Berdasarkan kinerja ekspornya, industri kertas berhasil menduduki
peringkat pertama dan industri pulp peringkat ketiga untuk ekspor produk
kehutanan selama tahun 2011-2017.

Pada 2017 kedua industri tersebut menyumbang devisa negara sebesar 5,8
miliar dolar AS, yang berasal dari kegiatan ekspor pulp senilai 2,2 miliar
dolar AS ke beberapa negara tujuan utama yaitu China, Korea, India,
Bangladesh, dan Jepang, serta ekspor kertas sebesar 3,6 miliar dolar AS
ke Jepang, Amerika Serikat, Malaysia, Vietnam dan China.

"Industri pulp dan kertas juga menyerap sebanyak 260 ribu tenaga kerja
langsung dan 1,1 juta tenaga kerja tidak langsung," imbuh Ngakan. Maka
itu, industri pulp dan kertas tergolong sektor padat karya dan
berorientasi ekspor.

Guna mendongkrak kemampuan industri pulp dan kertas nasional, Balai Besar
Pulp dan Kertas (BBPK) di Bandung sebagai salah satu lembaga riset di
bawah BPPI Kemenperin telah berperan aktif dalam upaya pengembangan
standar hijau.

Jadi, lanjutnya, proses produksi di industri mengutamakan upaya efisiensi
dan efektivitas dalam penggunaan sumber daya secara berkelanjutan.

"Sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian
fungsi lingkungan hidup serta dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,"
paparnya.

Pada 6-8 November 2018 lalu, BBPK Bandung menggelar 3rd International
Symposium on Resource Efficiency in Pulp and Paper Technology (3rd
REPTech).

Simposium internasional ini bertujuan untuk mempromosikan dan
menyebarluaskan inovasi hasil litbang dan pengembangan teknologi
berwawasan lingkungan dalam pengelolaan industri pulp dan kertas.

Kegiatan tersebut dihadiri sebanyak 250 peserta yang berlatar belakang
kalangan industri, peneliti, praktisi, serta tenaga ahli profesional di
bidang pulp dan kertas, baik dari dalam maupun luar negeri.

"Selain dari Indonesia, pembicara berasal dari negara Jepang, Korea,
Australia, dan Malaysia. Materi yang disampaikan antara lain mengenai
non-wood fiber source and technology, paper recycling technology,
sustainable production system in pulp and paper industry, serta penerapan
industri 4.0," tambah Ngakan.

Tujuan lain simposium ini juga melakukan pertukaran informasi terbaru
tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pulp dan
kertas, serta memperluas jejaring kerja sama litbang dengan mempertemukan
tokoh-tokoh penting di bidang riset dari perguruan tinggi, instansi,
asosiasi, dan lembaga riset yang berada di dalam maupun luar negeri.

Baca juga: Kinerja ekspor bikin industri pulp dan kertas Indonesia
berpotensi jadi terbesar dunia


Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT (c) ANTARA