Sekelompok ilmuwan dari Kaunas University of Technology (KTU) Lithuania telah menciptakan plastik biodegradable yang terdekomposisi di tempat kompos dalam waktu dua tahun. Secara global, jumlah produksi plastik dalam setahun sama dengan seluruh berat umat manusia hidup saat ini. Hanya 9 persen diantaranya didaur ulang, dan sisanya terdegradasi dengan lambat di landfill.

Disintegrasi plastik memakan waktu ratusan bahkan ribuan tahun, selama itu plastik terdisintegrasi menjadi mikropastik kemudian masuk ke air tanah kemudian ke makanan kita dan lingkungan. Para ahli memperkirakan pada tahun 2050 lautan kita akan dipenuhi plastik lebih banyak dari ikan yang ada saat itu.

Masalah limbah plastik adalah menjadi prioritas utama urusan generasi saat ini. Parlemen Eropa memberikan aproval peraturan melarang penggunaan plastik 'single use' pada tahun 2021. Dan sejumlah aturan sedang dibuat di seluruh dunia untuk mengontrol limbah plastik. Para ilmuwan tidak kalah mengambil bagian dalam membuat solusi untuk menyelamatkan lingkungan.

Menurut para ilmuwan tersebut tantangan membuat bioplastik tidak saja membuatnya biodegradable tapi juga 'transparan' sebagai tanda plastik itu berkualitas karena demikianlah para konsumen meminta plastik dengan kualitas baik. Untuk ramah lingkungan membutuhkan harga dan plastik biodegradable plastik buatan KTU lebih mahal daripada plastik biasa. Tetapi para pengguna yang sadar akan menyadarkan industri untuk memilih menggunakan bahan biodegradable sebagai alternatif.


Peneliti Indonesia dan Plastik Biodegradable

Peneliti Indonesia (LIPI) pun ikut serta dalam usaha membuat plastik ramah lingkungan dikenal dengan bioplastik sebagai alternatif pengganti plastik biasa. Bioplastik buatan peneliti Indonesia dibuat dari pati singkong lalu dibuat pelet menjadi bahan baku plastik. Dengan bahan baku pati singkong itu plastik yang dihasilkan bisa diurai hancur dalam tanah kurang dari satu tahun. Sayangnya biaya produksinya empat kali lipat harga plastik biasa.