KBRN, Pekanbaru : Industri pulp dan kertas Indonesia turut berkontribusi dalam menyumbang devisa. Pada tahun 2018 berkontribusi sebesar US$ 5,8 miliar untuk devisa Indonesia, sehingga terus diberdayakan untuk menggunakan teknologi terkini dalam menghasilkan produk.

Hal itu dikatakan oleh Direktur Utama PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Sihol P Aritonang dalam sebuah acara di Pekanbaru, Kamis (7/2/2019).

Dia mengatakan pihaknya terus mengutamakan efisiensi dan efektivitas dalam proses pembuatan kertas dan pulp sebagai penggunaan sumber daya secara berkelanjutan.

"Termasuk menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup agar memberikan manfaat bagi masyarakat," ungkapnya.

Menurutnya, inovasi dalam teknologi khususnya yang ramah lingkungan sejalan dengan implementasi making indonesia 4.0. Selain itu, produk yang dihasilkan dengan cara tersebut bisa lebih mudah masuk ke pasar global / sehingga, akan berdampak pada peningkatan daya saing produk pulp dan kertas.

Seperti diberitakan, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur mengatakan, sampai saat ini sudah ada 84 perusahaan pulp dan kertas di Indonesia. Indonesia pun berada di peringkat kesembilan untuk produsen pulp terbesar di dunia serta posisi keenam untuk produsen kertas terbesar di dunia.

Berdasarkan kebijakan industri nasional, industri pulp dan kertas merupakan salah satu sektor yang mendapat prioritas dalam pengembangannya.

"Hal ini karena Indonesia punya potensi terutama terkait bahan baku, di mana produktivitas tanaman kita jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara pesaing yang beriklim subtropis," tuturnya.

Selain itu, industri pulp dan kertas memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian nasional. Berdasarkan kinerja ekspornya, industri kertas berhasil menduduki peringkat pertama, sementara industri pulp berada di peringkat ketiga untuk ekspor produk kehutanan selama 2011-2017.

Pada 2017, kedua industri tersebut menyumbang ke devisa negara sebesar US$5,8 miliar. Nilai itu berasal dari kegiatan ekspor pulp sebesar US$2,2 miliar ke beberapa negara tujuan utama, yaitu China, Korea, India, Banglades, dan Jepang, serta ekspor kertas sebesar US$3,6 miliar ke Jepang, Amerika Serikat, Malaysia, Vietnam, dan China.

"Industri pulp dan kertas juga menyerap sebanyak 260 ribu tenaga kerja langsung dan 1,1 juta tenaga kerja tidak langsung," imbuh Ngakan. Maka itu, industri pulp dan kertas tergolong sektor padat karya dan berorientasi ekspor.