Penelitian nanomaterial telah tumbuh dengan cepat selama 10 tahun terakhir dan mulai menyinggung material terbarukan seperti nanoselulosa, nanolignin, nanohemiselulosa, dll. Minat yang terus meningkat akan 'green chemistries' mendorong hal tersebut dan kuncinya adalah selulosa, senyawa organik paling melimpah di muka bumi.

“Sesungguhnya, bahan dari sumberdaya dengan dasar bio telah menarik minat penelitian yang luas dalam beberapa tahun terakhir sebagai hasil dari potensinya yang sangat tinggi untuk pabrikasi beberapa produk bernilai tinggi dengan dampak yang rendah ke lingkungan.” tulis Djalal Trache dari Ecole Militaire Politechnique, Aljazair.

Menurut Alan Rudie, Ph.D., USDA Forest Products Laboratory, Jepang adalah leader dalam menggunakan nanomaterial dari laboratorium ke produksi. “Mereka menggunakan nanoselulosa dalam berbagai macam produk saat ini, termasuk sepatu, pulpen, komposit untuk papan sirkuit, aditif makanan dan automobil, dan lebih banyak lagi.”

Jepang menargetkan reduksi emisi CO2 26 persen pada tahun 2030, utamanya melalui pemanfaatan serat nanoselulosa netral-karbon. Menurut Profesor Akira Isogai dari Universitas Tokyo perluasan penggunaan sumberdaya biomasa kayu terbarukan dibutuhkan untuk membuat masyarakat yang berkelanjutan dan mencegah pemanasan global. “Tanaman vascular mengandung serat seperti pipa di dalam stem yang mengandung lignin,” katanya, “bisa secara efisien mengurangi CO2 menjadi komponen tanaman yang mengandung karbon, membentuk oksigen selama pertumbuhannya.” Dan, sekitar 66 persen wilayah Jepang ditutupi hutan, negara yang mempunyai sumber daya kaya akan kayu yang belum dimanfaatkan. Isogai juga melaporkan pasar yang diharapkan untuk produksi nanoserat, sebagaimana dicatat oleh METI (The Japanese Ministry of Economy, Trade and Industry)pada 2013, akan mencapai US$ 10 Miliar per tahun pada 2030 sebagai bagian efisiensi volume “generasi berikutnya”. Produksi di Jepang saat ini sekitar 100 kg per hari, dan diharapkan naik menjadi 1 ton per hari pada 2020, dan 250 ton per hari pada 2030.