TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Perindustrian atau Kemenperin mengatakan industri pulp dan kertas perlu meningkatkan daya saing produknya sehingga bisa lebih kompetitif di pasar global. Karena itu, Kemenperin berencana memanfaatkan teknologi terkini supaya dapat menghasilkan inovasi.

Baca: Kemenko Sebutkan Industri Prioritas Penerima Kredit Usaha Rakyat

"Hal ini karena Indonesia punya potensi terutama terkait bahan baku, di mana produktivitas tanaman kita jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara pesaing yang beriklim subtropis," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Ngakan Timur Antara dalam keterangan tertulis di Jakarta, Ahad, 11 November 2018.

Adapun, saat ini sudah ada sebanyak 84 perusahaan pulp dan kertas yang beroperasi. Dalam konteks global, Indonesia saat ini berada di peringkat ke 9 sebagai produsen pulp terbesar di dunia. Selain itu, Indonesia juga menjadi produsen kertas terbesar ke 6 di dunia.

Ngakan mengatakan, mengacu pada kebijakan industri nasional, pulp dan kertas merupakan salah satu sektor yang mendapat prioritas untuk dikembangkan. Sebabnya, industri pulp dan kertas memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian nasional.

Guna mendongkrak kemampuan industri pulp dan kertas nasional, Ngakan melanjutkan, Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK) di Bandung ikut berperan aktif dalam upaya pengembangan standar hijau. Kemudian, pada 6-8 November 2018, BBPK Bandung juga telah menggelar 3rd International Symposium on Resource Efficiency in Pulp and Paper Technology (3rd REPTech).

Simposium internasional ini bertujuan untuk mempromosikan dan menyebarluaskan inovasi hasil litbang dan pengembangan teknologi berwawasan lingkungan dalam pengelolaan industri pulp dan kertas. Dalam acara ini, juga dijelaskan bahwa proses produksi lewat efisiensi dan efektivitas dalam penggunaan sumber daya secara berkelanjutan.

Sementara itu, berdasarkan kinerja, industri kertas berhasil menduduki peringkat pertama dan industri pulp peringkat ketiga untuk ekspor produk kehutanan selama 2011-2017. Dua industri ini, mampu mencatatkan sumbangan bagi devisa negara sebesar USD 5,8 miliar pada 2017.

Dengan rincian, kegiatan ekspor pulp telah mencapai USD 2,2 miliar dengan tujuan negara ekspor seperti China, Korea, India, Bangladesh dan Jepang. Sedangkan, ekspor kertas mencapai USD 3,6 miliar dengan tujuan negara utama ke Jepang, Amerika Serikat, Malaysia, Vietnam dan China.

Sementara itu, industri pulp dan kertas juga mampu menyerap sebanyak 260 ribu tenaga kerja langsung dan 1,1 juta tenaga kerja tidak langsung. Karena itu, industri ini masuk ke dalam