Selama beberapa dekade penerbit buku mengikuti model dasar yang sama: Majukan buku pengetahuan yang besar ke fakultas dengan program pembelajaran; hargakan pada pelajar/ mahasiswa sejumlah harga dengan bobot yang sesuai; revisi dan perbaharui isinya setiap beberapa tahun. Kemudian ulangi. Tetapi beberapa tahun terakhir ini telah terjadi perubahan di sekolah-sekolah dan universitas.

Evolusi buku teks pelajaran ini menjadi cerminan hal serupa di industri lainnya. Hak milik telah diberikan begitu saja ke peminjaman dan dari analog ke digital. Dalam pukulan keras transisi ini, ide nya bukan hanya tentang bagaimana belajar harus terlihat pada abad ke 21 tetapi bagaimana cara mewujudkannya.

Salah satu penerbit buku pendidikan kelas dunia dengan daftar judul buku 1500 di pasaran Amerika Serikat telah mengumumkan kedepannya akan mengadopsi strategi “digital first”. Buku fisik masih diproduksi, tetapi pelajar/ mahasiswa akan menyewa dengan opsi akan membeli setelah masa peminjaman berakhir.

Kami mendapati meskipun mahasiswa lebih memilih membaca secara digital, pilihan ini tidak menunjukkan hal positif atau sama dalam arti komperhensif”, kata Lauren Singer Trakhman, seorang peneliti membaca pemahaman dari Laboratorium Penelitian Belajar University of Maryland

Di samping itu, penelitian pada belajar dari kertas vs belajar dari layar mengungkapkan bahwa meskipun generasi pelajar/ mahasiswa saat ini lebih memilih teknologi baru, hampir semua pelajar/ mahasiswa yang telah disurvey memilih belajar pada kertas, biasanya mengatakan mereka merasa tampil lebih baik ketika membaca dari kertas daripada dari layar

Sumber: situs luar negeri (www.wired.com)